Ilustrasi bursa saham.

Medan,  reporter88.com – IHSG hari ini diperdagangkan diteritori negatif. IHSG pada perdagangan hari ini mengalami pelemahan terpuruk sejak beberapa tahun. IHSG sempat melemah di 4,7%.

Penutupan perdagangan saham hari ini, IHSG melemah 221 basis poin atau melemah 3.75% di level 5.683 level tertinggi IHSG berada di level 5.868 dan level terendah IHSG berada di level 5.621.

“Investor saham hari ini tampak merasakan kepanikan yang menyebabkan IHSG terjungkal dalam hingga 4,7%. Seluruh sektor saham mengalami pelemahan dimana saham property mengalami pelemahan terparah 4% disusul oleh pelemahan saham sektor konsumen 3,7% pertambangan melemah 3.6% dan saham sektor keuangan  melemah 3.5%,” ucap Benjamin Gunawan,  pengamat ekonomi Sumut,  Rabu (5/9/2018).

Tak hanya IHSG yang mengalami pelemahan, Indeks saham Global juga melemah pada perdagangan hari ini. kepanikan massal menyebabkan keruntuhan saham diberbagai bursa. Indeks Hangseng melemah 2,6%, Indeks Kospi 200 melemah 1,32%, Indeks Philliphine juga melemah 1,6% dan Shanghai melemah  1,68%.

Disamping itu, mata uang Rupiah terhadap dolar AS masih terpuruk hingga level Rp15.000. “Saat ini situasi eksternal mengalami krisis yang cukup parah, negara-negara emerging market mulai diuji ketahanannya oleh AS. Krisis yang melanda beberapa negara seperti Turki, Argentina, Venezuela dan menyusul Afrika Selatan perlu diwaspadai,” katanya.

Menurut Benjamin sejauh ini pemerintah telah responsive menyikapi pelemahan Rupiah yang semakin merosot yakni melemah 7,6%. Pelemahan ini memang sangat menyulitkan para importir dan pengusaha namun saat ini kebijakan-kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia juga butuh waktu untuk merespon pergerakannya.

“Faktor eksternal lebih cepat mempengaruhi pelemahan Rupiah. Untuk itu, masyarakat juga harus meredam kepanikannya agar Rupiah dapat menyesuaikan diri ditengah pelemahannya,” katanya.

Kekhawatiran masyarakat akan pengulangan krisis ditahun 1998 hanya menjadi momok ketakutan yang membuat masyarakat semakin panik.

“Situasi ekonomi Indonesia dibandingkan tahun 1998 jelas sangat berbeda. Perbedaan mendasar saat ini ialah. Inflasi Indonesia saat ini sangat terjaga sedangkan Inflasi di tahun 1998 memang sangat terpuruk sepanjang sejarah,” ucapnya.

“Fundamental Indonesia saat ini masih terjaga dan tergolong kuat dibandingkan negara-negara lainnya. Upaya peningkatan Investasi dan Ekspor di Indonesia menjadi tugas kita bersama untuk membantu menguatkan Nilai tukar Rupiah saat ini,” tambahnya. (azmi)

Loading...