Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Sumatera Utara (DKSU), Rajamin Sirait,SE

Medan,reporter88-Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Sumatera Utara (DKSU), Rajamin Sirait,SE menyebut lembaga DKSU harus menjadi pusat lahirnya kreativitas seni dan budaya Sumatera Utara. DKSU harus jadi motor penggerak bangkitnya kesenian lokal sebagai representasi keberagaman suku, adat dan budaya Sumatera Utara.

Pernyataan ini disampaikan Rajamin kepada media dalam satu pertemuan khusus, Senin (2/4/2018) sore di kantornya Jalan Sisingamangaraja Medan. “DKSU adalah sekumpulan orang-orang yang peduli pada beragam cita rasa seni dan budaya Sumatera Utara.Mereka adalah orang-orang terpilih yang tak hanya sekedar piawai soal seni, tapi tahu bagaimana caranya mengelola,mengembangkan bahkan mempertahankan kekayaan seni dan budaya lokal itu sendiri hingga memasarkannya menjadi sebuah bisnis seni pertunjukan yang menarik,” kata Rajamin.

Tokoh pemuda yang mengaku pecinta musik dari segala genre ini, menyebut seni adalah sesuatu yang bersifat universal dan bisa menembus ruang sekat perbedaan suku, ras maupun agama.

Karena sifatnya yang universal, seni harus bisa menjadi kekuatan pelebur keberagaman dan kemajemukan budaya Sumatera Utara menjadi satu aset yang bisa dikreasi dan dikelola DKSU menjadi sebuah seni pertunjukan menarik.

“Saatnya DKSU mendorong keberagaman seni dan budaya lokal untuk bangkit dan menjadi raja di pentas kesenian Sumatera Utara yang bisa dijual sebagai salah satu destinasi wisata unggulan,” sebut Rajamin.

Menurutnya, keberagaman seni dan budaya lokal Sumatera Utara saat ini ibarat mutiara terpendam yang bernilai tinggi namun belum diasah menjadi sesuatu yang bernilai bisnis di pentas seni pertunjukan dunia.

Rajamin mencontohkan ‘Tari Kecak’ dan sejumlah seni budaya Bali yang sudah menjadikan khasanah kekayaan lokal sebagai bisnis seni pertunjukan dan masuk dalam kalender event maupun paket destinasi wisata unggulan daerah.

“Kita punya banyak kreativitas seni yang menarik, budaya lokal yang eksotik dan punya banyak kalender event wisata namun belum tergarap dan terintegrasi dengan baik. Semua masih berjalan sendiri-sendiri. Daerah yang satu menggelar event seni dan budaya lokalnya sendiri, sementara daerah lain juga begitu. Keberagaman dan event berbeda inilah yang harus jadi tugas DKSU untuk mengkolaborasi dan mengelaborasinya dalam satu konsep seni pertunjukan besar yang dikemas secara apik, teratur, bergilir dan terjadwal. DKSU harus punya panggung kesenian sendiri untuk mempopulerkan beragam seni dan budaya Sumatera Utara,” jelas Rajamin.

Kordinasi Selaras dan Dukungan Pemerintah

Disinggung soal pentingnya koordinasi kuat dan terorganisir antar sesama komite dalam perumusan program-program DKSU baik jangka pendek, menengah dan panjang, menurut Rajamin menjadi sesuatu yang wajib hukumnya, mengingat luas dan beragamnya cabang seni dan budaya sebagai disiplin ilmu maupun seni sebagai kultur kearifan lokal masyarakat Sumatera Utara.

“Bicara DKSU tentu kita bicara soal kehormatan dan kekuasaan dalam pengelolaan beragam cabang ilmu seni, baik seni musik, film, teater,seni rupa, multi media dan cabang seni lainnya. Tak ada yang merasa komite yang satu lebih penting dari komite yang lain.Semua komite harus selaras dan mampu dikolaborasi menjadi satu kesatuan tekad, satu aksi dan satu tujuan besar demi kebangkitan gairah seni dan budaya Sumatera Utara di pentas nasional dan dunia. Karena yakinlah, kekompakan dan soliditas akan mengalahkan dinamika dan ego masing-masing komite demi terwujudnya cita-cita besar DKSU memajukan seni dan budaya Sumatera Utara,” ucap Rajamin.

Lantas bagaimana dukungan pemerintah?, Ketua Partai Berkarya Provinsi Sumatera Utara ini beranggapan, kehadiran pemerintah tidak lagi hanya sekedar sebagai seremonial belaka atau sekedar memenuhi ‘dahaga’ struktur kelembagaan semata.

Pemerintah, kata Rajamin harus benar-benar ‘hadir’ dan menjadikan DKSU sebagai pusat edukasi, pusat promosi seni dan budaya sekaligus sebagai pusat manifestasi seni pertunjukan daerah yang terkonsep dengan packaged bisnis yang multi efek lewat peran serta kolaborasi beragam komite kesenian yang ada.

Satu lagi dukungan dana untuk menjaga kemandirian DKSU tak kalah pentingnya. Pun begitu, Rajamin sepakat, DKSU jaman now tak boleh lagi hanya sekedar ajang bagi-bagi ‘kue’ anggaran pemerintah. “Tetapi bagaimana DKSU menjadi inspirator dan spirit munculnya program-program yang realita untuk kejayaan seni pertunjukan dan pentas budaya Sumatera Utara, baik dari pantai timur, pantai barat, dataran tinggi hingga kepulauan Nias,” ujar Ketua Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Sumut ini.

Rajamin tak menampik, ajang promosi tahunan sekelas PRSU harus pula bisa dimanfaatkan DKSU sebagai konsideran kesenian dan kebudayaan Sumatera Utara sebagai sebuah pentas seni pertunjukan dan tour wisata budaya.

“DKSU harus bisa masuk dan diberi ruang dalam event yang selaras seperti PRSU.Harapan kita, pengelolaan PRSU tidak lagi monoton pameran, tapi ada seni pertunjukan budaya Sumatera Utara yang bisa dikemas secara kreatif, modern, menarik dan punya nilai bisnis tinggi namun tidak meninggalkan kearifan lokalnya.Selaku Dewan Pakar,saya mengapresiasi Pemprovsu bila memberikan peran bagi DKSU untuk terlibat dalam pengelolaan PRSU di tahun mendatang,” tutup Rajamin. (pay)

Loading...