Mata uang Rupiah dan Dolar AS. (Reporter88/istimewa)

Medan, reporter88.com – Mata uang rupiah terpuruk dikisaran 14.750 pada perdagangan pagi ini. Rupiah masih melanjutkan tren pelemahan seiring dengan memburuknya kondisi mata uang di Negara berkembang lainnya taerhadap US Dolar.

Pelaku pasar kembali mengkuatirkan perkembangan terkini dari Argentina yang mengalami krisis. Dan krisis yang terjadi di Argentina menambah deretan panjang Negara yang mengalami kesulitan likuiditas.

Setelah sebelumnya ada Turki dan Venezuela yang juga mengalami krisis dimana mata uangnya terperosok sangat dalam. Beberapa masalah lainnya yang dikuatirkan adalah kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS yang sangat mungkin dilakukan dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral AS dalam waktu dekat nanti.

“Runtuhnya kepercayaan pelaku pasar terhadap kondisi mata uang di Negara berkembang memang terus terjadi belakangan ini. Secara beruntun banyak Negara yang mengalami kesulitan likuiditas yang mengakibatkan tekanan terhadap mata uang di Negara bekembang lainnya,” ucap Benjamin Gunawan, pengamat ekonomi Sumut, Jumat (31/8/2018).

Menurut Benjamin, mata uang US dolar yang menguat saat ini sebenarnya tidak ditopang dengan indeks dolarnya sendiri. Besaran indeksnya US Dolar justru anjlok sekarang dikisaran 94. Lebih rendah dari posisi dua pekan lalu yang sempat menyentuh level 96.86.

“Biasanya kinerja mata uang lain terhadap US Dolar ini kerap linier dengan besaran indeksnya,” katanya.

Akan tetapi, kondisi fundamental Negara yang mengalami krisis menjadi yang paling dominan mempengaruhi kinerja Rupiah pada perdagangan hari ini.

Hal tersebut terjadi dikarenakan oleh buruknya kinerja mata uang Negara masing-masing, yang sangat memperngaruhi Negara lainnya.

“Kalau berkaca kepada kondisi ekonomi di AS sendiri, justru Trump belakangan tidak menginginkan kenaikan suku bunga acuan,” ucapnya.

Namun sayang, hal tersebut justru diperburuk dengan kondisi ekonomi di Negara lain yang membuat Rupiah sulit dikendalikan. “Pendekatan kebijakan yang akan di ambil saya rasa masih mengandalkan penyesuaian besaran suku bunga acuan oleh Bank Indonesia nantinya. Atau mungkin melakukan intervensi di pasar keuangan,” katanya.

“Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah defisit neraca perdagangan kita. Dan masalah yang satu ini bisa dilakukan dengan cara mengurangi ketergantungan impor BBM. Namun konsekunesinya berat, yakni menaikkan harga BBM di tanah air,” katanya. (azmi)

Loading...